Nasib Penghuni Huntara di Cilacap, Berbuka Puasa dengan Menu Seadanya

Suhadi, salah satu korban longsor di Cilacap yang jadi penghuni huntara. Momen puasa ini membuatnya sangat terpuruk karena kehilangan keluarga dan menu buka puasa hanya seadanya. (bercahayanews.com)

CILACAP – 17 keluarga yang menjadi penghuni hunian sementara (huntara) di Desa Jenang Kecamatan Majenang, Cilacap, berbuka puasa dengan menu sangat sederhana. Bahkan bisa dikatakan seadanya. Ini sudah mereka jalani sejak hari pertama puasa ramadan.

Biasanya, umat muslim di tanah air berbuka puasa dengan beragam menu. Mulai dari tajil, minuman segar dan terakhir dengan menu berat. Biasanya nasi plus lauk pauk.

Namun menu seperti ini menjadi hal langka bagi penghuni huntara yang berasal dari Desa Cibeunying Kecamatan Majenang, Cilacap. Mereka hanya bisa berbuka puasa dengan menu seadanya.

Seperti Mad Suhadi. Penghuni huntara yang menempati nomor 10 ini, tinggal dengan salah satu cucunya. Untuk membatalkan puasa, dia memilih gorengan dan segelas kopi. Di meja ada kue kering dan rengginang. Selepas menghabiskan kopir, Suhadi menunaikan sholat maghrib.

Baru setelah itu, dia menyantap nasi plus sayur kangkung. Dan kembali, dia mengandalkan gorengan sebagai teman menu tersebut.

Sebagai salah satu korban bencana di Cilacap dan jadi penghuni huntara, dia mengaku puasa ini sangat menyiksa. Pertama karena dia tidak bisa lagi berkumpul dengan anak dan istrinya. Dari 6 anak, dia kehilangan 2 orang dan istri tercinta saat tanah longsor melanda Desa Cibeunying.

“Sedih karena ga bisa lagi ngumpul keluarga kaya dulu,” katanya.

Selama jadi penghuni di huntara di Cilacap itu, dia mengandalkan bantuan dari pemerintah. Termasuk bantuan permakanan seperti beras, minyak goreng dan lainnya.

“Beras, telor ada. Kalau beras sekarang masih,” ujarnya.

Dia mengaku belum bisa beraktifitas seperti semula, termasuk untuk mencari nafkah. Suhadi masih merasakan sakit di kaki akibat tertimpa reruntuhan rumah saat longsor terjadi. Hingga dia sempat menjalani operasi di bagian telapak dan engkel kaki.

“Buat jalan masih terasa sakit, jadi belum kuat buat bekerja. Sementara kebutuhan tiap hari selalu ada,” katanya.

Sebelumnya, tanah longsor melanda di Desa Cibeunying Kecamatan Majenang, Cilacap, Kamis (13/11/2025). Total ada 17 rumah tertimbung dan 23 orang meninggal. (*)