News  

Tim SAR Pesimis Pekerja Tambang Bisa Selamat. Pencarian Masuki Hari ke 5

Tim SAR Gabungan mulai pesimis pekerja tambang di Banyumas bisa selamat. Pencarian pekerja tambang yang terjebak di sumur sudah memasuki hari ke 5 dan petugas belum bisa mengevakuasi korban. (doc)

CILACAP – Tim SAR yang tengah bekerja untuk mengevakuasi pekerja tambang di Banyumas, merasa pesimis untuk bisa menyelamatkan para korban. Penyebabnya karena seluruh sumur tambang sudah terisi air dan kondisinya terus meninggi. Tiap sumur ini sudah saling terkoneksi dan debit air tinggi serta deras.

Pencarian korban pekerja tambang yang terjebak, sudah memasuki hari ke lima.Tim SAR mulai merasakan rasa pesimis bisa menyelamatkan korban yang terjebak di dalam sumur tambang. Meskipun petugas gabungan sudah berupaya maksimal agar bisa mengangkat para korban dalam kondisi apapun.

Seperti menyedot air dari seluruh sumur. Terakhir, petugas mencoba menyedot air dari sumur Dondong, salah satu sumur yang menjadi sarana pekerja tambang masuk ke dalam perut bumi.

Kepala Basarnas Cilacap, Adah Sudarsa mengakui, kondisi korban yang sudah berada terjebak selama 5 hari sulit untuk bisa selamat.

“Secara umum, misalnya kita terendam 5 hari dengan kedalaman 20 meter tanpa air, ya kita bayangkan lah. Kecuali ya ada mukjizat. Tapi kemungkinan itu ya kecil,” kata dia, Minggu (30/7/2023).

Sudarsa menambahkan, Tim SAR mengalami kesulitan untuk bisa masuk dan menemukan para korban karena seluruh sumur sudah tergenang air. Faktor lainnya adalah debit air yang masuk ke dalam sumur sangat deras. Ketiga adalah sumur tambang emas yang menjebak pekerja sangat dalam dan sempit.

Dia mencontohkan sumur Bogor yang sudah penuh dengan air. Saat petugas mencoba masuk, mereka mendapati air sangat deras mengucur ke dalam sumur. Meski tim sudah menambah pompa untuk menyedot air. Namun upaya ini tidak bisa maksimal karena air terus masuk ke dalam sumur.

“Kita hitung satu jam hanya turun 3 meter. Dan kalau 1 pompa mati, airnya langsung naik lagi. Dengan begitu debit airnya tinggi. Bogor memang sulit sekali,” katanya.

“Memang seperti kita ketahui bersama, medan di sini cukup berat. Bukan berati kita lemah, tapi sudah kita laksanakan upaya maksimal. Lokasi sangat sempit,” kata dia. (*)