News  

Umur Sedekah Ketupat sudah 500 Tahun

Warga menggantungkan ketupat di bambu saat Sedekah Ketupat. Umur tradisi Sedekah Ketupat di Kecamatan Wanareja dan Dayeuhluhur, diperkirakan sudah hampir 500 tahun. (doc)

CILACAP – Umur tradisi Sedekah Ketupat di Kecamatan Wanareja dan Dayeuhluhur, Cilacap ternyata sudah hampir mencapai 500 tahun. Pelaksaan tahun ini, sudah mencapai 494 kali. Ini berdasarkan kalender Sedekah Ketupat warga Desa Hanum Kecamatan Dayeuhluhur.

Rangkaian tradisi Sedekah Ketupat berupa tiap tahun nyaris sama di semua desa. Seperti lokasi yang harus ada di tiap batas desa atau urutan dalam tradisi khas warga di Kecamatan Wanareja dan Dayeuhluhur, Cilacap.

Warga sejak pagi menggantungkan ketupat lalu duduk dan menggelar doa bersama. Baru setelah itu, ketupat menjadi menu santapan bersama-sama dengan melibatkan peserta doa bersama atau warga yang melintas.

Tradisi ini bertepatan dengan Rabu Wekasan dan tahun ini pada Rabu (21/9/2022). Sementara tahun 2023 jatuh di akhir Agustus.

Pemangku Adat Desa Hanum, Ceceng Rusmana mengatakan, umur tradisi Sedekah Ketupat ini sudah hampir 500 tahun.

“Umur Sedekah Ketupat ini sudah hampir 500 tahun. Dari catatan kalender sekedah ketupat warga Desa Hanum, tahun ini sudah yang ke 494,” kata dia.

Menurutnya, tradisi ini muncul setelah ada perjalanan Raja Pakuan bergelar Menak Pajajaran Prabu Siliwangi dan melintasi sejumlah desa. Dari sejumlah versi menyebutkan, Prabu Siliwangi tengah dalam perjalanan kembali setelah sebelumnya dari arah timur Jawa Barat. Versi lain menyebutkan justru merupakan perjalan Sang Prabu dari barat menuju timur.

“Ada banyak versi. Intinya melakukan perjalanan dan melalui beberapa desa. Ini ada dalam doa ijab tiap upacara sedekah ketupat,” kata dia.

Berdasarkan catatan sejarah, perjalan Prabu Siliwangi itu untuk berperang. Namun versi cerita rakyat menyebutkan, Sang Prabu dalam perjalanan untuk ziarah.

Menurutnya, ketupat ini persembahan untuk raja dan rombongannya. Ketupat menjadi menu pilihan karena sederhana dan mudah dibawa.

“Ketupat juga awet. Bisa bertahan sehari atau dua hari,” katanya.

Dan posisi ketupat yang tergantung di bambu, agar rombongan mudah mengambilnya. Mereka ini dalam kondisi tergesa-gesa dan tidak bisa singgah lama.

“Karena itulah ketupat digantungkan di gantangan bambu,” tegasnya. (*)