News  

500 Ha Sawah Terancam Kekeringan

ilustrasi

CILACAP – Setidaknya 500 hektar sawah terancam kekeringan akibat kemarau yang sudah memasuki masa puncak. Penyebabnya karena pasokan air dari bendung sudah menurun drastis.

Saat ini, mayoritas petani di Cilacap sudah selesai masa olah lahan. Pada masa awal tanam padi inilah, petani sangat membutuhkan pasokan air dari irigasi. Salah satu sawah yang mulai mengalami kekeringan berada di Desa Cilopadang Kecamatan Majenang.

Agus Paino, salah satu petani mengaku sawahnya sudah kering kerontang karena debit air irigasi dari Bendung Cileumeuh sudah sangat kecil.

“Yang di sebelah timur irigasi ga dapat air. Sawah jadi kering,” katanya.

Suharto juga mengeluhkan hal serupa. Dia terpaksa membuat sumur bor agar bisa air bisa terus membasahi tanah dan tanaman padi.

“Harus nge-bor,” katanya.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Majenang, Eko Budiharto mengakui, wilayah rawan kekeringan di sana mencapai 500 ha. Lokasinya tersebar di Desa Cilopadang, Padangjaya, Padangsari dan Pahonjean.

“Terutama yang mengandalkan pasokan air dari saluran irigasi kanan Cileumeuh,” katanya.

Namun dia belum bisa merinci data sawah yang sudah terdampak kekeringan. Karena laporan terakhir, yakni pada Juli 2023 petani masih melakukan olah lahan.

“Bulan kemarin mereka masih melakukan olah lahan. Mungkin sekarang mulai ada sawah yang terdampak atau terancam kekeringan,” terangnya.

Dia sudah melakukan antisipasi agar sawah yang terancam kekeringan bisa tetap panen. Yakni dengan menyiapkan alat pompa untuk petani yang membutuhkan. Sejumlah kelompok juga disiagakan, terutama mereka yang sudah menerima bantuan pompa dari pemerintah.

“Semuanya kita siapkan,” tegasnya.

Dia menambahkan, luas sawah di Kecamatan Majenang mencapai 3816 ha dan mayoritas sudah ada irigasi tekhnis. Petani mengandalkan bendung Cijalu, Cileumeuh dan 2 buah bendung suplesy di Desa Mulyadadi dan Pahonjean. Sisanya berada di perbukitan dan minim irigasi tekhnis. (*)