CILACAP – Bencana tanah bergerak di Desa Karanggintung Kecamatan Gandrungmangu, mengakibatkan 9 rumah retak. Tiga rumah mengalami rusak berat dan sudah tidak layak dihuni. Saat ini, 22 keluarga dan 79 jiwa warga Dusun Pagergunung Desa Karanggintung terpaksa tinggal di tenda darurat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Tri Komara Sidhy mengungkapkan, pihaknya langsung mendirikan tenda darurat di dekat lokasi kejadian untuk menampung pengungsi. Bantuan permakanan juga sudah dikirimkan untuk menopang kebutuhan makan tiap hari para pengungsi.
“Warga tidak mau jauh dari rumah. Meski mereka tetap khawatir kalau rumah akan tambah rusak dan berbahaya jika dihuni,” katanya, Jumat (4/6/2021).
Dia meperkirakan, pergerakan tanah di sana karena ada sumber air di bawah perkampungan tersebut. Air ini kemudian akan mengalami titik jenuh saat hujan deras mengguyur. Akibatnya, lapisan tanah di bagian permukaan mengalami pergerakan setelah lapisan bawah sliding atau bergerak bebas. Hal ini berujung pada 9 rumah retak dan rumah lainnya mengalami kerusakan.

Wilayah Kabupaten Cilacap sejak Mei hingga awal Juni ini sering terjadi hujan deras. Tidak terkecuali wilayah Kecamatan Gandrungmangu dan sekitarnya.
“Jadi ada semacam tuk (sumber air) di bawah permukaan tanah. (Kemungkinan seperti itu) Saya kan bukan ahli geologi,” katanya memprediksi kejadian tersebut.
Perkiraan ini berkaca pada sejumlah kejadian di wilayah lain. Seperti kejadian serupa di Desa Ujungbarang, Cibeunying dan Padangjaya di Kecamatan Majenang. Demikian juga dengan Kecamatan Dayeuhluhur dan Wanareja.
“Di Majenang dan Wanareja sering terjadi seperti itu,” kata dia.
Untuk memastikannya, BPBD Kabupaten Cilacap sudah melayangkan surat permohonan ke Badan Geologi Bandung untuk menerjunkan tim.
“Kita sudah minta ada survey dari Badan Geologi Bandung,” kata Tri.
Bencana tanah longsor ini terjadi akhir Mei lalu. BPBD memperkirakan kejadian ini sudah berlangsung lama. Pergerakan tanah seperti ini kerap kali terjadi sangat lambat namun selalu terulang pada momen tertentu.
“Biasanya lambat, tapi pasti. Mungkin awalnya pergeseran kecil, tapi lama-lama membesar. Hingga sekarang ini paling parah,” tegasnya. (*)






