Waspadai Penyakit yang Datang Saat Musim Pancaroba

ilustrasi

JAKARTA – Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi selama musim pancaroba berdampak signifikan pada peningkatan kasus penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan faringitis. Beberapa rumah sakit dan puskesmas di wilayah perkotaan melaporkan lonjakan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan sejak awal April.

Musim pancaroba, merupakan peralihan dari penghujan ke kemarau atau sebaliknya. Saat musim pancaroba ini, sangat identik dengan terjadinya bencana alam. Mulai dari hujan deras dan angin kencang, tanah longsor, banjir hingga fenomena hujan es.

Selain itu, musim pancaroba juga memunculkan kerawanan dan gangguan penyakit yang selalu menyerang warga. Hingga kasus penyakit tertentu, mengalami lonjakan bersamaan datanya musim pancaroba.

Lonjakan kasus terutama terjadi pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia atau penderita penyakit kronis. Demikian juga dengan individu berdaya tahan tubuh rendah.

Situs warta.jogjakota.go.id melansir, perubahan suhu yang tiba-tiba, munculnya angin kencang dan kelembapan tinggi, menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran virus dan bakteri penyebab infeksi pernapasan. Penyakit yang umum muncul antara lain flu, batuk, pilek, serta faringitis atau radang tenggorokan maupun Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

“Gejala umum ISPA meliputi hidung tersumbat, batuk kering, demam, dan rasa tidak nyaman di tenggorokan. Sedangkan gejala faringitis dengan munculnya rasa nyeri saat menelan, tenggorokan kering, serta demam,” tulis warta.jogjakota.

Faringitis juga dapat terjadi karena konsumsi makanan berminyak seperti gorengan maupun kurangnya asupan air putih. Juga karena akibat polusi udara, serta kebiasaan mengonsumsi minuman dingin.

Untuk mencegah penyebaran penyakit di musim pancaroba ini, masyarakat mesti menjalani pola hidup sehat. Yakni dengan selalu mengkonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup dan rutin berolahraga. Selain itu juga dengan memakai masker saat di luar rumah.

Selain itu, meningkatkan asupan cairan dan menghindari aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan saat cuaca ekstrem juga dianjurkan sebagai tindakan pencegahan tambahan. (*)