JAKARTA – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) ke-8 di Jakarta, Selasa (5/8). Panitia memilih tema “Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial” sebagai bentuk Adaptasi Teknologi menghadapi dinamika baru penyusunan kamus di era digital. Sebanyak 120 peserta terpilih mengikuti kegiatan ini untuk memperkuat fondasi perkamusan Indonesia yang siap beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, membuka kegiatan secara resmi dan menegaskan bahwa peran kamus selalu berkaitan dengan sejarah perjuangan serta masa depan bahasa Indonesia. Ia menyoroti lebih dari 305 juta pencarian daring Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang menuntut Adaptasi Teknologi demi menjaga kualitas dan keberlanjutan kamus. Ia mengajak semua pihak memanfaatkan perkembangan digital untuk memperkuat rujukan bahasa yang bermutu.
Badan Bahasa mencatat sebagian masyarakat belum memahami arti istilah tertentu dengan benar meskipun mereka sering mencarinya di KBBI. Mereka mendorong Adaptasi Teknologi dalam sosialisasi istilah baru melalui media yang mudah diakses dan dipahami agar masyarakat menggunakannya secara tepat.
Menekankan pemanfaatan kecerdasan
Hafidz menekankan pemanfaatan kecerdasan artifisial secara etis dan adaptif untuk mengembangkan kamus. Ia mengarahkan Adaptasi Teknologi bukan hanya sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai media penyebaran kata positif yang sesuai budaya Indonesia. Ia memastikan KBBI menjadi rujukan utama bagi sistem AI agar kosakata santun mudah ditemukan.
Ia memberi contoh potensi AI dalam menyajikan data lintas bahasa. Ia menjelaskan bahwa Adaptasi Teknologi memungkinkan anak muda mencari padanan kata “saya” dalam sepuluh bahasa daerah dan mendengar suara penutur aslinya. Ia mengajak generasi muda memanfaatkan peluang kreatif ini untuk memperkaya literasi bahasa.
Hafidz juga mengingatkan dilema linguistik di era digital. Ia menegaskan perlunya Adaptasi Teknologi untuk memfilter kosakata baru dari komunitas daring atau media sosial sebelum memasukkannya ke ruang formal. Ia memastikan parameter validitas, kesantunan, dan keterwakilan budaya tetap terjaga.
Selain memaparkan capaian, Hafidz menyampaikan rencana strategis jangka panjang Badan Bahasa. Ia membangun kerja sama internasional dengan universitas ternama dan memperkuat kapasitas pendidikan tinggi di bidang linguistik dan leksikografi melalui Adaptasi Teknologi. Ia juga membuka program magang satu semester di Badan Bahasa untuk memperdalam praktik perkamusan.
Memikirkan strategi Adaptasi
Kegiatan ini menjadi refleksi menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Hafidz mendorong peserta memikirkan strategi Adaptasi Teknologi agar bahasa Indonesia terus berkontribusi pada semangat kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Ia memotivasi peserta menjaga eksistensi bahasa di tengah kemajuan AI.
Widyabasa Ahli Madya, Dewi Puspita, menyampaikan bahwa peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Ia mencatat lebih dari 200 pendaftar, menerima 60 makalah, dan memilih 28 untuk dipresentasikan. Ia menilai dunia perkamusan memerlukan konsentrasi khusus, sehingga Adaptasi Teknologi harus dilakukan secara terarah untuk menjaga kualitas diskusi.
Panitia membahas tema “Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial” dalam lima subtema besar, mulai dari kebijakan leksikografi hingga terminologi kontemporer. Mereka memanfaatkan Adaptasi Teknologi dalam forum Sidang Perkamusi Indonesia untuk mempertemukan pakar dan praktisi leksikografi.
Pembicara utama, Ian Kamajaya, memaparkan materi “Kecerdasan Artifisial dan Sistem Manajemen Kamus di Indonesia”. Ia menekankan bahwa Adaptasi Teknologi memerlukan infrastruktur memadai, data berkualitas, biaya cukup, dan tenaga ahli terampil. Ia mengingatkan peserta untuk memiliki ekspektasi realistis saat mengimplementasikan AI.
Seminar Leksikografi Indonesia 2025 menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang. Panitia mengajak memanfaatkan Adaptasi Teknologi untuk menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi, identitas, dan penanda kemajuan bangsa. Mereka juga membentuk ekosistem kebahasaan yang mendukung pertukaran informasi mutakhir seputar perkamusan. (*)






