MEDAN – Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 pada Jumat (29/8) dengan tema “Sinergi dan Akselerasi Menuju USK yang Adaptif, Inovatif, dan Bertaraf Internasional” untuk menegaskan perlunya memperkuat Pondasi Perguruan Tinggi menghadapi era digital dan tantangan global.
Raker USK 2026 menghadirkan pimpinan fakultas, tenaga kependidikan, serta unsur sivitas akademika lainnya. Kehadiran lintas elemen memperkuat Pondasi Perguruan Tinggi, sehingga universitas dapat secara aktif menghadapi dinamika global yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Plt. Sekretaris Ditjen Dikti, Setiawan, menyampaikan arah kebijakan pendidikan tinggi dalam kerangka Diktisaintek Berdampak dan menegaskan bahwa universitas harus secara aktif mengelola risiko untuk memperkuat Perguruan Tinggi serta menjamin keberhasilan strategi mereka.
“Dalam menetapkan sasaran strategis, kita harus mengidentifikasi risiko dan menyiapkan mitigasinya. Tanpa manajemen risiko yang kuat, akselerasi justru menimbulkan kerentanan baru,” ujar Sesditjen Setiawan, menekankan pentingnya Perguruan Tinggi.
Setiawan menambahkan, universitas harus melakukan asesmen risiko di tingkat prodi, fakultas, dan universitas untuk memperkuat Perguruan Tinggi menghadapi digitalisasi dan perubahan global.
Sinergi dan Akselerasi Internal sebagai Pondasi Perguruan Tinggi
Rektor USK, Marwan, menegaskan tema Raker selaras dengan kebijakan nasional pendidikan tinggi dan menjadi dasar penguatan Perguruan Tinggi.
Setiap langkah strategis USK harus melahirkan manfaat terukur, baik di internal kampus maupun bagi masyarakat luas,” jelasnya, menekankan peran Perguruan Tinggi.
Plt. Sesditjen Dikti menekankan bahwa universitas harus menegakkan akuntabilitas bersamaan dengan otonomi untuk memperkuat Pondasi Perguruan Tinggi dan menjaga kepercayaan publik.
“Otonomi itu penting, tapi universitas harus selalu menegakkan akuntabilitas,” tegas Setiawan, menekankan bahwa akuntabilitas memperkuat Pondasi Perguruan Tinggi.
Setiawan menyoroti peluang besar memanfaatkan aset perguruan tinggi. Dengan dukungan project development fund, universitas dapat mengelola aset produktif untuk memperkuat Pondasi Perguruan Tinggi.
Menurut Setiawan, universitas harus memulai konsep kampus berdampak dengan mengevaluasi seluruh unit internal untuk memperkokoh Pondasi Perguruan Tinggi sebelum memberikan kontribusi eksternal.
“Sulit bicara kontribusi eksternal jika masalah internal belum terselesaikan. Ia menjelaskan bahwa universitas memulai konsep dampak dari Pondasi Perguruan Tinggi internal, kemudian merambah ke kontribusi eksternal.
“Sinergi adalah kunci akselerasi; tanpa orkestrasi, fakultas hanya berjalan sendiri-sendiri,” tuturnya, menekankan pentingnya Pondasi Perguruan Tinggi yang solid.
Rektor USK menegaskan Raker 2026 menjadi momentum memperkuat peran universitas sebagai katalisator perubahan, sekaligus menegaskan Pondasi Perguruan Tinggi yang adaptif dan proaktif.
“Raker memberi arah baru bagi USK, agar universitas proaktif melahirkan terobosan relevan bagi kebutuhan bangsa,” tegas Marwan, memperkuat Pondasi Perguruan Tinggi.
Ketua MWA USK, Safrizal Zakaria, menekankan percepatan transformasi hanya tercapai melalui kerja bersama, yang menjadi bagian dari Pondasi Perguruan Tinggi yang kuat.
Ia menegaskan bahwa universitas harus melakukan akselerasi secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Hanya dengan orkestrasi bersama, kita hasilkan efek berlipat untuk kemajuan universitas,” pungkasnya.
USK menegaskan komitmennya untuk melampaui rutinitas birokrasi dan tampil sebagai mesin akselerasi perubahan, sekaligus memperkuat Pondasi Perguruan Tinggi untuk masa depan. (*)






