Desa Rawan Banjir Butuh Perahu Karet

  • Bagikan
Desa rawan banjir butuh peralatan berupa perahu karet. Perahu milik BPBD Cilacap masih sangat kurang dibandingkan dengan ancaman banjir. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Desa rawan banjir di Kecamatan Majenang, Cilacap ternyata minim sarana penyelamat berupa perahu karet. Saat ini, jumlah perahu karet baru ada 1 unit dan milik BPBD Kabupaten Cilacap.

Perahu tersebut selalu stand by di kantor UPT BPBD Majenang. Perahu ini untuk mengevakuasi warga jika terjadi banjir di wilayah kerja UPT yang mencakup 5 kecamatan. Jumlah ini tentu tidak cukup.

Pada kondisi tertentu, perahu ini akan digeser ke lokasi lain oleh BPBD Cilacap. Seperti pada banjir akhir 2020 lalu. Perahu dari UPT Majenang dipakai mengevakuasi warga Kecamatan Gandrungmangu yang masuk UPT Sidareja.

Dan saat 4 desa di Kecamatan Majenang terkena banjir, proses evakuasi warga mengalami kendala karena perahu ada di wilayah lain.

Kepala Desa Pahonjean Kecamatan Majenang, Heri Sudiono mengatakan, desa rawan banjir sangat butuh perahu untuk evakuasi.

“Kita sangat butuh perahu. Apalagi hanya ada satu dan itu untuk 5 kecamatan,” ujarnya, Rabu (24/11/2021).

Dia mengaku sedikit lega saat ada bantuan perahu karet dari relawan. Seperti pada banjir akhir 2020 lalu ataupun November 2021.

Dia mengakui kebutuhan ini sangat mendesak. Apalagi ancaman banjir masih ada karena tanggul jebol di Sungai Cikawung serta Selokan 1 masih dalam perbaikan. Demikian juga dengan tingginya intensitas hujan selama akhir tahun.

“Kita tidak tahu kapan hujan deras akan turun. Yang pasti, saat ini hujan deras masih akan terus terjadi,” katanya.

Karena itu dia berharap ada pengadaan perahu tambahan dari instansi terkait. Atau bantuan pengadaan perahu bagi desa rawan banjir di Kecamatan Majenang. Wilayah rawan ini meliputi Desa Pahonjean, Padangsari, Mulyadadi dan Mulyasari.

“Kalau ada bantuan perahu tentu kita senang sekali. Minimal butuh 3,” kata Heri.

Dia mengatakan, banjir juga menimbulkan masalah air bersih dan sanitasi. Hingga wilayah ini butuh sumur dalam yang tetap bisa berfungsi baik saat banjir datang. Demikian juga dengan fasilitas sanitasi berupa toilet komunal.

“Dua ini juga kita butuhkan,” tegagsnya. (*)

  • Bagikan