Harga Sembako Stabil. Warga Cenderung Minim Belanja

  • Bagikan
Harga beras sejak lebaran sampai Juni 2021 nyaris tidak ada gejolak dan tetap stabil. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Harga komoditas sembilan bahan pokok (sembako) di pasar tradisional, memasuki pekan ke 2 Juni 2021 tergolong sangat stabil. Dalam 2 pekan terakhir nyaris tidak ada lonjakan harga.

Seperti harga beras. Pada 3 Juni 2021, harga beras antara Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu per kg. Perbedaan harga tergantung pada jenis yang dijual pedagang. Sebut saja jenis premium yang mencapai Rp 10 ribu. Sedangkan tipe medium lebih murah yakni Rp 9 ribu.

Dan pada Selasa (15/6/2021), harga beras masih sama persis, yakni antara Rp 7 ribu sampai dengan Rp 10 ribu per kg.

“Harga masih sangat stabil. Belum ada lonjakan harga,” ujar Kepala Pasar Majenang, Cilacap, Paino, Selasa (15/6/2021).

Ketua Jurusan Ekonomi dan Bisnis Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Sufyan Tsauri, Dodi Afandi Firdaus mengatakan, kestabilan harga sembako saat ini dipengaruhi oleh penurunan daya beli warga. Penurunan ini terjadi karenakebiasaan warga melakukan aksi borong menjelang hari besar. Dalam hal ini adalah lebaran.

“Aksi belanja-belanja ini kaitannya dengan momen hari besar. Baik lebaran, natal atau lainnya,” ujar Dodi.

Pada akhirnya, warga “mengerem” pembelian kebutuhan sekunder dan mengutamakan komoditas primer. Salah satunya adalah hanya berbelanja kebutuhan dapur dan mengurangi memborong lainnya. Dan belanja inipun, warga cenderung sangat selektif agar bisa lebih berhemat. Seperti mengganti konsumsi daging dengan sumber protein lainnya.

Atau, mereka lebih memilih menahan diri karena ada kebutuhan sosial. Sebut saja menghadiri undangan syukuran baik pernikahan maupun lainnya. Faktor lain adalah kebutuhan anak sekolah. Mulai dari membeli kuota untuk proses pembelajaran on line. Atau menyiapkan anggaran menjelang tahun ajaran baru nanti. Momen ini membuat warga lebih banyak menyimpan uang dan menahan diri belanja berlebihan.

“Kebutuhan anak sekolah seperti kuota tetap ada. Belum lagi nanti menjelang tahun ajaran baru. Hingga dari sekarang warga harus menyiapkan alokasi anggaran ke sana,” kata dia.

Dia memperkirakan, penurunan daya beli akan berlangsung sampai Juli nanti. Atau setidaknya pasca hari raya Idul Adha.

“Kalau sekarang memang jarang ada yang hajatan. Tapi Juli nanti mulai ada kenaikan,” tegasnya. (*)

  • Bagikan