Keluarga Bantah Anak Jadi Jaminan Bank Plecit. RI Tidak Punya Hutang

Penasehat hukum keluarga balita korban pembunuhan, M Nabawy bersama ayah korban saat berbicara kepada media, Kamis (14/8/2025). Keluarga bantah kalau anak korban jadi jaminan di bank plecit karena orang tua sama sekali tidak ada hutang ke koperasi atau lembaga serupa. (bercahayanews.com)

CILACAP – Keluarga balita yang jadi korban pembuhunan di Cilacap, bantah kelau anak tersebut jadi jaminan di bank plecit. Pernyataan ini mereka sampaikan melalui penasehat hukum, M Nabawy, Kamis (14/8/2025).

FAS, karyawan bank plecit tega bunuh balita yang merupakan anak nomor 2 dari pasangan selingkuhannya. Dia membunuh korban di Gunung Cikukun, Kamis (7/8/2025). Kasus ini sekarang tengah dalam penyidikan Polresta Cilacap.

Di media sosial beredar kabar kalau anak balita berinisial AKA ini, jadi jaminan di bank plecit. Hingga FAS tega membunuh balita ini karena keluarga tidak mampu membayar hutang.

Tentu saja anak sebagai jaminan di bank plecit atau bank lainnya, hal ini sangat tidak lazim. Biasanya jaminan hutang berupa surat atau benda berharga. Seperti sertifikat tanah, surat kendaraan atau lainnya.

Keluarga lalu memberikan bantahan keras atas kabar ini. Mereka memastikan kalau RI tidak punya hutang sama sekali ke bank plecit atau lembaga keuangan serupa. Penegasan ini berdasarkan pengakuan paman korban, yakni kakak kandung RI.

“Kami tegaskan, tidak benar kalau keluarga punya hutan ke bank plecit,” tegas Nawaby.

“Saya selalu penasehat hukum, sudah mendengar langsung dari kakak RI dan memastikan (RI) tidak ada hutang ke bank plecit,” katanya.

Dia mengaku adanya hubungan gelap antara RI dengan FAS, yang bersatus karyawan bank plecit. Ini berdasarkan penelusurannya dengan meminta keterangan kepada keluarga dan juga sejumlah tetangga korban.

Dia melihat, kasus ini sangat kental dengan unsur hubungan gelap. Dan pelaku memang sudah ada niatan untuk membunuh AKA. Ini dengan kesaksian sejumlah warga yang kerap melihat pelaku menjemput korban di tepi jalan. Bukan layaknya karyawan bank plecit yang datang menagih ke nasabah.

“Biasanya, nagih utang ya datang ke rumah, gedor-gedor pintu dan bersuara keras. Lalu orangnya sembunyi, atau keluar lewat pintu belakang,” katanya.

Sudah Berulang Kali

Menurutnya, pelaku tidak hanya sekali atau dua kali menjemput dan membawa korban di tepi jalan. Namun setidaknya sudah 3 kali. Ini berdasarkan keterangan tetangga yang sempat melihat pelaku menjemput korban di tepi jalan.

“Ada saksi yang melihat korban memakai baju warna hitam, warna hijau seperti di video yang viral. Juga di hari terakhir menggunakan baju warna merah,” terangnya.

Hal ini sejalan dengan pengakuan keluarga yang sudah menyerahkan 2 potong baju warna hitam dan hijau. Sementara baju warna merah, diambil penyidik dari klinik yang sempat memeriksa pertolongan medis sebelum akhirnya korban meninggal dunia.

“Penelusuran kami klop dengan barang bukti yang disita petugas. Hingga kami yakin, pelaku memang sudah ada niatan atau rencana untuk menghabisi korban,” tegasnya. (*)