News  

Kisah Anak Panti Dibuat Buku. BI Purwokerto Beri Dukungan

Anak Panti Asuhan Bunda Serayu Banyumas menunjukkan buku tentang kisah mereka. Penerbitan buku ini mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia Purwokerto. (doc)

CILACAP – Kisah anak Panti Asuhan Bunda Serayu Banyumas, dibuat dalam sebuah buku berjudul “Waktu Yang Kudamba”. Buku setebal 179 halaman ini merupakan buku seri kedua dari “Di Tepi Serayu Aku Merindu”.

Cerita dalam buku ini tentang kisah kerinduan anak remaja panti dan terdokumentasi, terungkapkan dengan baik dan bisa menggerakkan hati pembaca.

Buku pertama Di Tepi Serayu Aku Merindu merupakan karya Wilibrordus Megandika Wicaksono bersama sejumlah wartawan di Banyumas sampai terbit buku Waktu Yang Kudamba. Buku kedua ini merupakan hasil proses penelitian serta tesis berjudul “Konstruksi Makna Kasih Sayang Remaja di Panti Asuhan Bunda Serayu Banyumas”.

Penulis “Waktu Yang Kudamba”, Wilibrordus Megandika Wicaksono mengatakan, buku ini bercerita tentang remaja panti yang memaknai kasih sayang dengan cara mereka.

“Sebagian memaknai kasih sayang sebagai hal yang dikenali atau dialami, tapi ada pula yang memaknainya sebagai sesuatu yang hilang bahkan pencarian,” katanya melalui siaran pers.

Dia meneruskan, panti ini tidak melayani adopsi anak semata. Namun membesarkan agar bisa kembali kepada orangtuanya tatkala sudah siap. Perkawinan di luar nikah, menjadi salah satu faktor ketidaksiapan keluarga menerima kehadiran anak. Dan melalui buku ini, pembaca terutama kaum muda bisa lebih bertanggung jawab dan menyiapkan masa depan sebaik mungkin.

“Jangan sampai anak-anak bertumbuh-kembang tanpa kasih sayang orangtua,” katanya.

Dia menambahkan, buku pertama dan kedua mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia Purwokerto. Hingga buku ini bisa lebih tersebar dan mampu menyampaikan kisah anak panti.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Rony Hartawan menambahkan, pihaknya berperan menyebarkan kisah anak Panti Asuhan Bunda Serayu, Banyumas. Dia berharap gerakan literasi di Banyumas kian berkembang melalui buku tersebut.

“Dukungan Bank Indonesia dalam proses penerbitan buku ini akan melengkapi khasanah literasi kita. Serta menginspirasi pembaca untuk merasakan empati terhadap kehidupan mereka yang tinggal di panti asuhan,” kata Rony Hartawan. (*)