Komisi D DPRD Cilacap Terkejut. Ada Apa?

  • Bagikan
Komisi D DPRD Cilacap terkejut dengan angka kematian pasien Covid19 hingga harus ada penelusuran data lebih lanjut agar bisa diambil perbaikan. (doc)

CILACAP – Ketua dan Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Cilacap terkejut dengan data yang diperoleh dari RSUD Majenang. Pihak manajemen rumah sakit pemerintah itu membeberkan sejumlah data terkait penangganan pasien Covid19.

Dari berbagai data itu, salah satunya adalah tentang angka kematian. Disebutkan dari awal 2021, RSUD Majenang telah merawat 500 lebih pasien dengan berbagai gejala.

Yang sangat mengagetkan adalah tingkat kematian pasien Covid19 yang dirawat di sana. Angkanya mencapai 20 persen. Mendapati angka ini, Komisi D DPRD Kabupaten Cilacap tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan sangat terkejut.

“Angka ini bikin kita kaget,” ujar Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Cilacap, Didi Yudi Cahyadi.

Dia mengaku, data ini harus terlebih dahulu dibandingkan dengan rumah sakit lain yang memang merawat pasien Covid19. Salah satunya adalah RSUD Cilacap. Demikian juga dengan rumah sakit swasta lainnya yang ada di sana. Selain itu, juga perlu ditelusuri lebih lanjut mengenai jumlah kematian.

Karena menurutnya, data ini masih sangat awal dan butuh data dukung lainnya. Mulai dari usia, penyakit penyerta atau komorbid dan lainnya. Dengan demikian bisa didapatkan data lebih lengkap dan bisa dijadikan pertimbangan oleh instansi terkait.

“Butuh data lebih lanjut. Biar diketahui penyebabnya apa. Apakah dari komorbid atau yang lain,” katanya.

Dia menambahkan, saat ini jumlah pasien yang dirawat mengalami tren penurunan. Namun demikian, harus tetap ditelusuri lebih lanjut tentang data awal tersebut hingga bisa dijadikan bahan perbaikan.

“Dengan data lengkap nantinya bisa diambil langkah untuk mencegah dan memperbaiki semuanya,” tegasnya.

Kabid Pelayanan RSUD Majenang, dr Nur Cahyo menambahkan, sejak Januari hingga akhir Juli 2021 ada 174 pasien Covid19 yang meninggal setelah mendapatkan perawatan di sana. Selain itu ada 55 pasien yang ditangani petugas pemulasaran jenasah dan berasal dari luar. Seperti dari rumah sakit swasta, puskesmas atau warga yang menjalani isolasi mandiri.

“Saat lonjakan, rata-rata harian pasien yang meninggal 14 orang,” kata Nur Cahyo.

Namun saat akhir Juli ini, kondisinya sudah mulai menurun. Ini dilihat dari jumlah pasien yang tengah dirawat di sana dan hanya ada 46 orang saja.

“Sekarang melandai,” tegasnya. (*)

  • Bagikan