Menuju Desa Mandiri Melalui Ekowisata

  • Bagikan
Tempat wisata Cibinuang cocok untuk camping ground dan menjadi salah satu daya tarik ekowisata Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja, Cilacap. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Menuju desa mandiri melalui ekowisata atau kegiatan ekonomi produktif lainnya, tengah dirajut warga Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja. Desa ini sejak 2020 mulai mengambil langkah pasti agar bisa menjadi desa mandiri melalui wisata.

Warga bersama pemerintah desa menyusun rencana pasti dengan melihat potensi wisata di sana. Langkah pertama adalah memetakan potensi dan membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Ada 4 pokdarwis yang mengelola 4 destinasi berbeda. Yakni Cibinuang, Bukit Cilumba, bendung serba guna dan situs berupa makam.

Kepala Desa Tambaksari, Eko Widianto mengatakan, mimpi terbesar warga dan pemerintah desa adalah menjadi desa mandiri.

“Mimpi saya, warga dan pokdarwis adalah menjadi desa mandiri,” ujar Eko.

Menurutnya, dengan kemandirian ini maka pembangunan, pemberdayaan masyarakat agar lebih sejahtera bisa lebih mudah. Karena mandiri, desa punya sumber dana yang mampu menopang seluruh program.

Beda halnya jika masih bergantung pada alokasi anggaran dari pemerintah daerah ataupun pusat. Desa harus mengajukan usulan terlebih dahulu, baru kemudian menunggu dana turun. Dia mencontohkan Desa Ponggok yang sudah memiliki Pendapatan Asli Desa (PADes) yang luar biasa dari wisata.

“Kalau sudah mandiri kan apa-apa bisa sendiri,” ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini sudah ada 4 wisata yang terbangun melalui dana desa. Plus adanya caffe bernuansa pegunungan lengkap dengan kamar inap. Keberadaan 4 destinasi wisata dan penunjangnya menjadi modal awal.

Puncak Lumba punya view khas pegunungan yang mampu menarik pengunjung. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

Selain itu, 2021 ini pemerintah desa kembali mengucurkan anggaran Rp 20 juta untuk penambahan wahana di destinasi wisata. Dan diharapkan tahun 2022 akan ada kucuran dana dari provinsi untuk tujuan serupa.

Eko mengakui, desa ini memilik paket komplit dengan adanya destinasi wisata, caffe dan juga rumah produksi aren. Saat ini sudah ada kelompok yang mau bekerja sama dengan pokdarwis melalui program inovasi produk.

“Ada rumah produksi gula aren. Kita inovasi menjadi gula semut lengkap dengan pengemasan. Ini bisa menjadi oleh-oleh pengunjung,” kata dia.

Baginya, ekowisata ini memiliki banyak dampak peningkatan pendapatan. Contohnya adalah meningkatnya harga gula aren dan perajin terbebas dari tengkulak.

“Biasanya mereka terjerat tengkulak hingga harga paling Rp 11 ribu. Sekarang, dengan inovasi harga sudah sampai Rp 16 ribu. Ini sebuah peningkatan luar biasa,” terangnya.

Gula aren menjadi souvenir yang mulai digarap untuk mendukung Ekowisata Desa Tambaksari. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

Dia menargetkan, ekowisata akan membawa dampak lain seperti kebersihan lingkungan, keamanan dan perbaikan infrastruktur berupa jalan. Karena dia yakin pemerintah akan memperbaiki jalan jika wisata sudah berkembang pesat.

Untuk mewujudkannya, maka semua elemen harus terlibat dan mendukung. Mulai dari aparat, PKK, lembaga desa termasuk BUMDes yang berfungsi memfasilitasi produk unggulan.

“BUMDes jadi fasilitator. Beli produk warga dan jual di sentra oleh-oleh yang akan kita bangun di tiap destinasi. Kalaupun tidak habis oleh pembeli, BUMDes akan lepas ke pembeli lain. Ini sudah mulai jalan melalui pengiriman ke luar kota,” katanya.

Sekretaris Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Cilacap, Paiman menambahkan, desa ini punya potensi lengkap. Mulai dari wisata alam, kuliner dan atraksi budaya berupa sedekah kupat.

“Sudah lengkap. Alamnya bagus dan ada atraksi budaya yang bisa jadi atraksi wisata,” tegasnya. (*)

  • Bagikan