JAKARTA – Pemerintah RI terus saja merasa yakin kalau nilai tukar Rupiah akan kembali menguat menghadapi gempuran Dolar AS. Rupiah sempat anjlog ke level Rp 17 ribu per 1 USD.
Gonjang-ganjing perubahan drastis nilai tukar mata uang terhadap Dolar, terjadi di banyak negara. Ini terjadi usai Presiden Donal Trump menerapkan kebijakan menaikan tarif impor terhadap banyak komoditas. Salah satu imbas paling kentara adalah penurunan mata uang di banyak negara.
Penutupan perdagangan uang Jumat (11/4/2025), nilai tukar Rupiah sempat menguat ke level Rp 16.796. Dalam sepekan, Rupiah melemah 0,85%.
Penutupan perdagangan Jumat ini menjadi penanda perubahan arah pergerakan nilai tukar mata uang terhadap dolar. Karena mayoritas mata uang di Asia menguat dengan nilai bervarias. Hanya Yuan yang melemah menghadapi Dolar AS.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengaku tetap optimis nilai tukar Rupiah tidak akan terpuruk, tapi justru akan kembali menguat.
“Nilai Rupiah memang sangat fluktuatif. Secara fundamental ekonomi kita sudah kuat. Kita lihat nanti secara jangka menengah dan panjang,” katanya.
Keyakinan ini karena RI masih punya kuota ekspor ke beberapa negara dan sangat bagus. Demikian juga dengan cadangan devisa yang sangat cukup.
“Ekspor kita juga bagus, lalu cadangan devisa kuat. Selain itu neraca perdagangan bagus,” katanya.
“Plus kita sudah melaksanana devisa hasil eksport,” kata dia.
Dari seluruh keuntungan ini, dia yakin nilai tukar Rupiah akan kembali kuat. Bahkan tidak sampai anjlog drastis ke level paling bawah.
“Jadi kita tidak ter-corner. Ke depan fundamental dari pada devisa hasil eksport akan memperkuat posisi rupiah,” tegasnya. (*)






