Pengungsi Dihibur Siswa SMK Komputama

Siswa SMK Komputama Majenang ajak para pengungsi bermain dan mendongeng. Aksi siswa tersebut untuk mendukung agar pengungsi tidak mengalami depresi. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Para pengungsi yang bertahan di SD 04 Kuta Bima Kecamatan Cimanggu, Cilacap dihibur oleh siswa SMK Komputama. Hal ini menjadi yang pertama kali bagi siswa SMK Komputama dengan datang ke lokasi untuk melakukan trauma healing.

Para siswa terlebih dahulu mendengarkan dan keluh kesah para pengungsi. Baru kemudian sebagian siswa mengajak pengungsi, terutama anak-anak untuk bermain, mendongeng dan lainnya.

“Ini semua inisiatif sepenuhnya dari anak-anak,” ujar Kepala SMK Komputama, Kusnana, Sabtu (9/4/2022).

Raihan Maulana, koordinator siswa mengatakan, materi trauma healing mereka dapatkan dengan terlebih dahulu mencari di youtube. Selain itu ada materi dari PMR yang pernah dia dapatkan sewaktu SMP dulu.

“Saat di tenda, teman-teman saling dukung dan spontan. Misalnya ada yang mau games, mendongeng atau yang lain. Pasti teman-teman yang lain ndukung,” terang Raihan.

Dia menambahkan, trauma healing pada dasarnya berupaya membuat pengungsi merasa nyaman dan bisa dengan berbagai metode. Termasuk mendongeng bagi anak-anak yang ada di lokasi pengungsian.

“Para pengungsi ini harus kita dekati agar mereka merasa nyaman,” kata dia.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Agustina Fajarwati mengatakan, selama ini bantuan kepada korban bencana mayoritas logistik. Seperti bahan makanan, pakaian, keperluan pribadi dan sejenisnya. ‘

Namun masih sangat sedikit pihak yang memperhatikan kondisi pengungsi usai menjadi korban bencana. Terutama anak-anak yang akan membawa dampak panjang. Para korban dan pengungsi saat bertahan di lokasi pengungsian, meski dihibur agar tidak terkena depresi mendalam.

“Kalau bisa, tiap bencana ada bantuan berupa alat permainan anak,” tegasnya.

Sejak sehari pasca bencana, warga yang ada di lokasi bencana langsung dievakuasi menuju SD 04. Mereka bermalam sembari berharap bisa segera pulang ke rumah masing-masing. Selama di tempat pengungsian, mereka kerap kebingungan karena aktifitas sangat terbatas. (*)