Pengungsi Mulai Keluhkan Sakit. 2 Orang Dirawat

  • Bagikan
Relawan mengukur lebar pergerakan tanah di tempat ibadah di Desa Karanggintung Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap. Bencana ini membuat 79 jiwa mengungsi dan 2 orang dilaporkan sakit dan harus dirawat. (doc)

CILACAP – Pengungsi korban pergerakan tanah di Desa Karanggintung Kecamatan Gandrunmangu, mulai mengeluhkan sakit. Rata-rata mulai terserang sakit kepala, gangguan percernaan, nyeri tulang, flu, batuk dan gatal gatal. Keluhan ini dirasakan mayoritas warga yang mengungsi dan tinggal di tenda darurat.

Berdasarkan laporan tim relawan Muhammadiyah Dissaster Management Centre (MDMC) Cilacap, ada 52 warga yang mengeluhkan gejala sakit tersebut.

“Pengungsi mulai mengeluhkan sakit,” ujar Wien Santoso, nara hubung relawan MDMC Cilacap yang diterjunkan ke lokasi, Senin (7/6/2021).

Dia mengatakan, warga dan pengungsi ini sudah mendapatkan bantuan medis. Termasuk dari Pusat Kesehatan Umat (PKU) Muhammadiyah Gandrungmangu.

Salah satu pengungsi korban pergerakan tanah di Desa Karanggintung, Cilacap harus dirawat petugas Puskesmas Sidareja karena kondisinya lemah. (doc)

Selain itu, PKU Muhammadiyah Gandrungmangu sempat merawat 1 warga lanjut usia. Warga tersebut ditemukan tergeletak di kamar mandi dan langsung ditolong warga, relawan dan aparat yang berjaga di lokasi pengungsian. Satu warga lanjut usia lainnya terpaksa dirawat di Puskesmas Sidareja karena mengeluhkan kepala pusing dan sesak nafas.

“Ada dua lansia yang harus dirawat. Tapi yang di PKU Gandrungmangu hari (7/6/2021) ini sudah boleh pulang. Tadi sekitar jam 2 siang,” kata dia.

Informasi dari relawan menyebutkan, pergerakan tanah di sana mulai terjadi pada 19 Mei lalu dan berlanjut sampai pertengahan pekan pertama Juni 2021. Setelah itu, nyaris tidak ada pergerakan lanjut berdasarkan penelusuran dan pengukuran oleh relawan MDMC Cilacap.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan, pergerakan lahan selalu terjadi secara lambat. Namun pergerakan ini selalu berulang terutama saat musim penghujan.

“Gerakan tanahnya lambat tapi pasti,” katanya. (*)

  • Bagikan