Perploncoan Terputus Karena Pandemi

Perploncoan diharapkan bisa terputus karena tidak ada MPLS selama pandemi. Hingga siswa senior tidak ada rasa dendam terhadap junior. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Perploncoan yang seperti sudah menjadi tradisi, diharapkan mampu terputus karena pandemi dari tahun ajaran 2019-2020 sampai 2021-2022. Selama 2 tahun itu, tidak ada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang melibatkan siswa senior dan junir hingga kerap muncul perploncoan.

Tradisi perploncoan ini muncul karena ada keterlibatan siswa senior di seluruh jenjang pendidikan menengah. Mulai dari Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SLTP), hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Bagi siswa senior, MPLS kerap menjadi ajang balas dendam karena mereka sempat menjadi obyek perploncoan saat masih menjadi siswa junior.

Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sufyan Tsauri, Masngudi mengatakan, pandemi selama 2 tahun ini membuat tradisi perploncoan terputus.

“Ini yang kita harapkan agar tradisi perploncoan ini terputus,” katanya, Senin (11/7/2022).

Dia menjelaskan, kakak kelas yang kini menjadi pendamping tidak pernah punya pengalaman menjadi obyek perploncoan. Ini karena MPLS dilakukan secara online selama pandemi 2 tahun tersebut.

Bahkan lebih jauh lagi, siswa senior ini juga minim pengalaman berinteraksi dengan teman sekelas karena keterbatasan pembelajaran tatap muka.

“Secara umum mereka ini kan jarang ketemu dengan teman dan guru karena belajar online. Ini juga membuat para senior ini harus banyak belajar, termasuk menjadi pendamping siswa baru selama MPLS,” kata Masngudi.

Menurutnya, tradisi perploncoan siswa baru tingkat SLTP memang lebih bisa diputus. Karena siswa pendamping jauh lebih mudah untuk dikendalikan oleh guru. Beda halnya dengan siswa tingkat SLTA karena para senior lebih punya kreasi dan kemamuan.

Selain itu, tingkat independensi siswa SLTA sudah lebih tinggi dari pada anak SMP sederajat. Hingga mereka punya “peluang” untuk tetap melanggengkan tradisi perploncoan.

Dia melihat, MPLS pasca pandemi ini menjadi ajang guru untuk melakukan perubahan agar tradisi perploncoan ini terputus. Seperti membuat tradisi baru yang lebih menyenangkan seluruh siswa.

“Peran guru menjadi sangat penting dengan membuat tradisi baru yang lebih baik agar perploncoan ini terputus,” tegasnya. (*)