PPKM, Anak Motor Gatel Ingin Touring

  • Bagikan
PPKM membuat anggota dan klub motor tidak bisa touring ke luar kota. Aktifitas paling sering hanya berkumpul di bengkel atau sekretariat. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang terus mengalami perpanjangan demi perpanjangan, membawa dampak bagi berbagai pihak. Mulai para pelaku usaha, siswa sekolah sampai dengan kelompok masyarakat tertentu. Tidak terkecuali bagi mereka pegiat komunitas tertentu yang sering menggelar beragam aktifitas di luar rumah.

Salah satu komunitas terdampak itu adalah anak motor yang tergabung dalam klub. Mereka kini lebih banyak menghabiskan waktu tanpa banyak kegiatan bersama.Agenda yang hilang itu antara lain touring ke luar kota atau sekedar menghabiskan malam panjang di tempat umum.

Tidak adanya aktifitas ini membuat mental para anggota klub mengalami perubahan drastis. Mayoritas mengeluhkan rasa bosan dan jenuh.

“Mental anak-anak down. Merasa jenuh karena jarang atau bahkan tidak bisa touring sama sekali. Udah gatel lah pengin main, pengin touring ke luar kota, ketemu saudara di acara besar,” ujar Sekretaris Majenang Tiger Club (MTC), Agung Wicaksono, Minggu (22/8/2021).

Menurutnya, sejak pemerintah menerapkan PPKM tidak ada kegiatan khas klub motor. Seperti jambore, wing day, ulang tahun klub dan lainnya. Otomatis, anggota klub motor tidak bisa touring ke luar kota karena larangan ini diberlakukan di seluruh Indonesia.

“Bukan hanya kita. Teman-teman di kota lain juga merasakan hal sama. Selain itu, pengurus pusat juga tidak mengadakan jambore atau wing day,” katanya.

Selama PPKM, klub motor juga tidak bisa menggelar kegiatan rutin. Seperti touring wajib atau sekedar nongkrong di tempat umum pada akhir pekan. Hal ini kemudian membawa pengaruh lain karena klub tidak bisa unjuk kekuatan dan mencari calon anggota baru.

“Biasanya kita bisa iklan sambil nongkrong. Mulai jam 8 (malam) sampai selesai. Kalau nongkrong pasti ada yang lihat hingga lihat, biar mereka tahu apa klub motor itu,” terangnya.

Mengatasi hal ini, pengurus mencoba mengakali dengan kegiatan berskala kecil. Seperti ngumpul di bengkel milik salah satu member. Atau di sekretariat klub yang selama ini dijadikan markas dan pusat komunikasi. Dengan demikian, pengurus bisa menjaga komunikasu antar anggota.

“Biar tetap terjaga silaturahmi dengan anggota. Meski yang datang hanya beberapa saja. Biar kita terjaga dari paparan Covid19,” tegasnya. (*)

  • Bagikan