KINABULA – Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) di Sabah tetap ramai meski libur semester.Sekolah Indonesia Luar Negeri terbesar di dunia ini menarik sekitar 700 orang dari berbagai daerah Sabah. Termasuk di antaranya warga Tawau yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer. Mereka mengikuti Program Generasi Maju Cinta Tanah Air (Gema Cita) sebagai bentuk nyata Pendidikan Berkelanjutan bagi anak pekerja migran Indonesia (PMI).
Sekolah Indonesia Luar Negeri terbesar di dunia ini menarik 700 orang dari berbagai daerah Sabah. Warga Tawau yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer juga hadir. Mereka mengikuti Program Generasi Maju Cinta Tanah Air (Gema Cita) sebagai bentuk nyata Pendidikan Berkelanjutan bagi anak pekerja migran Indonesia (PMI).
Program Gema Cita memberi pelayanan pendidikan bagi anak PMI di Sabah dan Sarawak. Program ini membantu mereka melanjutkan ke jenjang menengah di Indonesia. Anak-anak menamatkan SD dan SMP di SIKK atau Community Learning Center (CLC). Langkah ini menjadi strategi pemerintah untuk menjalankan Pendidikan Berkelanjutan bagi anak-anak kelahiran Malaysia yang mengikuti orang tua bekerja di ladang sawit.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia bekerja sama mendirikan SIKK dan CLC untuk memberi kesempatan anak PMI memperoleh pendidikan. Karena sebagian besar anak PMI tidak memiliki izin tinggal, mereka tidak bisa bersekolah di sekolah formal Malaysia. Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud dan Kemenlu membentuk jaringan sekolah ini secara bertahap untuk memastikan Pendidikan Berkelanjutan tetap berjalan.
Kerajaan Malaysia mengizinkan SIKK beroperasi sejak 1 Desember 2008, CLC di Sabah sejak 25 November 2011, dan CLC di Sarawak sejak 20 Januari 2016. SIKK memimpin pengelolaan seluruh CLC di Sabah dan Sarawak dengan sistem dan kurikulum yang sama seperti di Indonesia. Guru profesional dari Indonesia mengajar di sana untuk menjaga kualitas Pendidikan Berkelanjutan.
Membuat program ini berkembang
Program Gema Cita mulai berjalan secara informal pada 2013 melalui inisiatif guru-guru SIKK dan CLC yang membentuk Sabah Bridge (SB). Mereka membantu lulusan SMP SIKK-CLC melanjutkan pendidikan di Indonesia secara mandiri. Dukungan berbagai pihak membuat program ini berkembang pesat dan memperkuat misi Pendidikan Berkelanjutan lintas negara.
Sejak 2017, SB, SIKK, dan perwakilan RI di Malaysia mengelola Program Gema Cita secara terkoordinasi. Mereka memfasilitasi tiga jalur pendidikan: beasiswa penuh Jalur Adem, beasiswa Yayasan tipe A dan B, serta jalur Mandiri. Semua jalur ini dirancang untuk memberi akses Pendidikan Berkelanjutan sesuai kebutuhan peserta.
Selama pandemi Covid-19, program tetap berjalan bahkan meluas ke CLC Sarawak dan Sanggar Belajar di Semenanjung. Dukungan KBRI, KJRI, KRI, dan sekolah mitra memastikan Pendidikan Berkelanjutan tidak berhenti di tengah pembatasan aktivitas.
Beasiswa Jalur Adem berasal dari anggaran Puslapdik Kemendikdasmen RI, dengan pelaksana di bawah SIKK. Pada 2022, program ini resmi bernama Generasi Maju Cinta Tanah Air (Gema Cita) dan mengusung slogan “Kembalilah ke Indonesia Kita” sebagai semangat Pendidikan Berkelanjutan anak-anak PMI.
Hingga kini, 4.036 alumni SMP SIKK-CLC telah melanjutkan pendidikan menengah melalui Gema Cita, baik Jalur Adem maupun Yayasan. Sebagian telah menyelesaikan pendidikan tinggi di Indonesia maupun luar negeri, membuktikan keberhasilan Pendidikan Berkelanjutan yang dijalankan program ini.
Pada 2025, sebanyak 847 alumni CLC, CLC Sarawak, SB Semenanjung, dan Sekolah Indonesia Jeddah mengikuti Gema Cita. Panitia menyiapkan jadwal ketat mulai dari sosialisasi, pendaftaran, seleksi, pengurusan dokumen, hingga keberangkatan sebagai bagian integral dari Pendidikan Berkelanjutan.
Menerima pembekalan di SIKK
Seleksi pada 26–28 Februari 2025 di Sabah melibatkan tes literasi, numerasi, psikologi, bakat, agama, budi pekerti, kesehatan, dan wawancara. Guru SIKK, guru bina CLC, dan dokter profesional memimpin proses ini. Peserta juga memproses paspor di KJRI Kota Kinabalu dan KRI Tawau untuk persiapan Pendidikan Berkelanjutan di Indonesia.
Sebelum berangkat, peserta menerima pembekalan di SIKK tentang keragaman budaya Indonesia, etika pergaulan, kesehatan, dan pencegahan narkoba. Mereka mempelajari cara beradaptasi di lingkungan baru, menjaga dokumen penting, dan membangun kebiasaan hidup sehat sebagai bekal Pendidikan Berkelanjutan di tanah air.
Pada 4–7 Juli 2025, para peserta berangkat melalui Bandara Internasional Kota Kinabalu atau Pelabuhan Tawau menuju sekolah masing-masing di 12 provinsi Indonesia. Dengan semangat tinggi, mereka meneriakkan “Kembalilah ke Indonesia Kita” sebagai simbol tekad melanjutkan Pendidikan Berkelanjutan dan menggapai masa depan yang lebih baik. (*)






