Tanah Sisa Longsor Cibeunying Selalu Timbulkan Banjir, Belum Ada Penanganan

Tumpukan tanah sisa longsor menutup akses jalan di Desa Cibeunying. Material ini terbawa air saat hujan deras dan menimbulkan banjir. (istimewa)

CILACAP – Lapisan tanah atau material sisa longsor di Desa Cibeunying Kecamatan Majenang, Cilacap, menumpuk di areal persawahan. Material ini juga menutup aliran sungai. Hingga saat hujan, sisa longsor di Desa Cibeunying ini selalu menjadi penyebab banjir dan menggenangi rumah warga di Dusun Tarukahan dan Cibuyut.

Longsor terjadi di Desa Cibeunying pada November 2025 dan mengakibatkan 23 orang meninggal dunia. Bencana ini juga membuat 17 rumah warga di Dusun Tarukahan dan Cibuyut rata dengan tanah.

Pasca kejadian, tanah longsor di Desa Cibeunying ini menyisakan masalah bagi warga setempat. Yakni dengan adanya tanah sisa longsor yang sering terbawa air hujan dan menutupi jalan maupun halaman rumah warga Cibeunying.

Material ini berasal dari lokasi tanah longsor, masuk ke areal persawahan. Atau meluap dari saluran sungai yang bagian hulu ada di puncak bukit yang longsor tersebut. Dan saat hujan deras, tanah sisa longsor ini selalu menimbulkan masalah bagi warga Desa Cibeunying.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gegologi (PVMBG) dalam rekomendasinya menyebutkan, perlu ada penataan lahan di bekas lokasi longsor. Sekaligus mengembalikan fungsi sungai yang menjadi pembatas Dusun Tarukahan dan Cibuyut.

Namun demikian, rekomendasi ini belum ada tindak lanjut dari pihak terkait. Salah satu alasannya karena kondisi tanah di lokasi longsor masih sangat labil.

Kepala UPT PSDA Wilayah Majenang, Akhmad Ghozali mengatakan, tanah labil akan membahayakan alat berat ataupun petugas saat melakukan penataan lahan.

“Iya (berbahaya),” katanya.

Meski demikian, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BBWS Citanduy dan Kementerian PUPR. Dia berharap agar penataan lahan lokasi longsor bisa ada dukungan dari pusat.

“Kalau mengandalkan daerah, APBD kita tidak kuat,” tegasnya. (*)