News  

Kepala BMKG Beri Peringatan Keras. Cuaca Ekstrem Dalam Sepekan

ilustrasi

CILACAP – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG, Dwikora Karnawati beri peringatan keras bagi semua pihak. Karena dalam sepekan ini akan ada cuaca ekstrem dan terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Peringatan keras dari Kepala BMKG ini muncul saat lembaga ini menggelar konfrensi pers melalui zoom meeting. Agenda ini juga disiarkan langsung melalui akun youtube @infobmkg.

Berbicara pertama dalam konfrensi pers itu, Dwikora langsung memaparkan kondisi cuaca global dan mempengaruhi cuaca di tanah air.

Saat ini, tengah terjadi anomali cuaca terutama di perairan Indonesia dan Pasicif. Data menunjukkan suhu permukaan Samudra Hindia lebih hangat dari biasanya. Sebaliknya, Samudra Pasific justru lebih dingin. Anomali kedua lautan besar ini mendorong terjadinya awan hujan di wilayah Indonesia.

“Sesuai prediksi, di ketahui bahwa suhu muka air laut di perairan Indonesia masih anomali,” katanya.

Dia menambahkan, hasil analisis dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya sirkulasi siklonik yang membentuk pola belokan serta perlambatan kecepatan angin. Ini dapat meningkatkan aktivitas pertumbuhan awan hujan.

Faktor lain adalah aktifnya fenomena gelombang atmosfer seperti Madden Jullian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin. Ketiganya juga meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

“BMKG dalam sepekan kedepan memprediksi intensitas hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir periode 9 hingga 15 Oktober,” terangnya.

Kepala BMKG ini kembali beri peringatan keras kepada semua pihak akan adanya potensi cuaca ektrem. Karena kondisi ini akan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, baik di wilayah barat hingga timur.

Peringatan Kepala BMKG ini mempertegas bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Cilacap sejak Jumat (7/10/2022) sore hingga Senin (10/10/2022). Banjir terjadi akibat hujan deras sejak Jumat hingga Minggu malam.

BPBD Kabupaten Cilacap Minggu dini hari mencatat, ada 3.874 KK dan 15.496 jiwa di 15 kecamatan terdampak bencana. Sementara pengungsi mencapai 72 KK atau 2860 jiwa.(*)