STMIK Bikin Inkubator Bisnis, Latih Mahasiswa Kuasai Bisnis Berbasis IT

  • Bagikan
Ketua Yayasan El Bayan, Fathul Aminudin Aziz meresmikan Inkubator Bisnis Mahasiswa di kampus STMIK Komputama, Senin (7/6/2021). (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Komputama, Cilacap membuat terobosan yang bisa memberikan value bagi mahasiswa dan perguruan tinggi sekaligus. Caranya dengan membuka Inkubator Bisnis Mahasiswa (IBM) dengan mengandalkan tekhnologi informasi sebagai basis program.

Mahasiswa, melalui inkubator ini dilatih menjalani bisnis di dunia maya. Seperti menjadi konten kreator media sosial (medsos), crypto hingga bermain saham.

“Baik yang konvensional maupun syariah. Mahasiswa harus dilatih mengembangkan potensi dan berbasis robotica,” ujar Ketua Yayasan El Bayan, Fathul Aminudin Aziz, Senin (7/6/2021).

Menurutnya, program ini berdasarkan usulan mahasiswa setempat yang kemudian dirancang agar membawa 2 manfaat sekaligus. Pertama bagi mahasiswa itu sendiri karena mendapatkan penghasilan dari produk yang dibuat.

“50 persen keuntungan untuk mahasiswa. Biar mendorong semangat belajar mahasiswa sekaligus membangun kebanggaan bagi mereka,” katanya.

Mahasiswa STMIK Komputama berlatih perdagangan saham di inkubator bisnis dan mendapatkan 50 % dari keuntungan. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

Bagi STMIK Komputama, keuntungan yang didapatkan adalah pengembangan program yang bisa disebarluaskan. Termasuk dipakai dalam program pengembangan masyarakat pedesaan melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Saat ini, mahasiswa dan perguruan tinggi itu sudah menjalin kerja sama dengan 2 BUMDes di Kecamatan Cimanggu.

“Ada kerja sama dengan BUMDes,” kata dia.

Baginya, kerja sama dengan BUMDes ini sangat penting untuk meningkatkan nilai atas produk masyarakat. Selain itu juga untuk memutus mata rantai distribusi produk pertanian dari petani sebagai produsen, langsung ke konsumen. Pola ini sangat membantu petani, terutama yang tinggal di pedesaan karena ada nilai tambah dari produk andalan mereka.

“Bisa memangkas rantai distribusi hasil pertanian. Tentu harapan kita bisa menggairahkan kembali pertanian pedesaan yang lesu selama pandemi,” katanya.

Ketua BUMDes Desa Negarajati, Wartoyo mengatakan, pihaknya mendapatkan pendampingan dari mahasiswa dan STMIK untuk membangun sistim informasi. Seperti tiketing, sistim pelaporan dan lainnya. Selain itu juga ada pelatihan bagi pengurus agar menguasai tekhnologi informasi sekaligus memanfaatkannya.

“Kita ada pendampingan dari STMIK. Ini baru langkah awal. Kedepan tiketing dan lainnya berbasis internet,” katanya. (*)

  • Bagikan